Agregator.com

MOTIVASI

Gak Usah Malu Tampil Seadanya, 3 Perempuan ini Membuktikan Kesuksesan Bisa Datang dengan Modal Apa Aja

Kesuksesan itu bisa datang dengan modal apa aja, tergantung kalian mau atau nggak untuk meraihnya. 3 Perempuan ini Sudah Beraksi, Kamu Kapan?

Perempuan Indonesia sering merasa rendah diri dan menjadi minoritas, terbukti dari rendahnya jumlah perempuan yang memangku jabatan penting baik dari sektor swasta maupun pemerintah. Perempuan Indonesia memang sering dipandang sebelah mata terutama karena pendidikan yang tidak merata. Lepas dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak banyak perempuan yang berkesempatan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Beruntung bagi mereka yang bisa langsung bekerja diperusahaan besar, namun untuk mereka dengan keterampilan seadanya atau justru dengan banyak keterbatasan bisa apa? Ya, ada banyak pilihan salah satunya menjadi buruh pabrik atau asisten rumah tangga di negeri orang. Mereka yang diliputi banyak keterbatasan ini sering kita hina, sering kita bully bahkan picingkan mata. Tapi itu tidak membuat mereka lantas putus asa.

Beberapa bahkan berhasil unjuk gigi dengan menjadi juru bicara yang berpidato di mimbar dunia mewakili nama Indonesia. Siapa saja perempuan-perempuan hebat itu?

1. Eni Lestari, Ketua organisasi International Migrants Alliance (IMA)

www.iisd.ca

Bagaimana jika seandainya kita terpaksa memupuskan mimpi dan cita cita kita karena keadaan yang tak mendukung? Kita bisa saja menangisi keadaan, menerima takdir begitu saja atau bahkan melakukan hal hal yang menyimpang dari koridor. Ya, siapa sih yang nggak sedih kalau ternyata harapan kita nggak sesuai dengan kenyataan? Tapi hal itu nggak berlaku bagi perempuan satu ini, Eni Lestari, sosok perempuan Indonesia yang menyita perhatian dunia karena pidatonya dalam pertemuan KTT Pengungsi dan Migran di forum Sidang MU PBB di New York pada Selasa 20 September 2016 kemarin. Pengalaman pahitnya tentang eksploitasi buruh dan tindakan tak manusiawi yang ia dapatkan semasa bekerja di Hongkong sejak 1999 ini mengantarkannya bergabung dengan organisasi buruh migran di Hongkong dan bahkan sekarang ia menjadi ketua organisasi International Migrants Alliance (IMA). Eni mampu menjadikan perjalanan hidup yang dulunya jauh dari harapan dan cita cita menjadi bermanfaat buat dia dan komunitasnya. Eni bahkan tak menyangka sebelumnya jika ia yang dulunya tak mampu melanjutkan sekolah dan harus menukar mimpinya dengan menjadi TKI di Hongkong, kini menjadi sorotan karena memperjuangkan 244 juta buruh migran di seluruh dunia. 

2. Butet Manurung, Pendiri Sokola Rimba 

www.beritasatu.com

Sosok perempuan yang memiliki nama asli Saur Marlina Manurung ini bisa menjadi inspirasi bagi kalian yang memiliki kepedulian dan mencintai dunia pendidikan. Kepeduliannya terhadap pendidikan yang merata bagi anak-anak khususnya di  tempat terpencil ini yang membuatnya mendirikan sekolah gratis bernama "Sokola Rimba" di Jambi pada 2003. Bahkan Butet juga rela ikut tinggal di rimba demi mengajar. Atas dedikasinya sebagai perintis dan pelaku pendidikan alternatif bagi masyarakat pedalaman di Indonesia, perempuan lulusan Antropologi Unpad ini  mendapatkan penghargaan sebagai salah satu Pahlawan Asia dari majalah TIME. Perjalanan nya ini juga ia tuangkan ke dalam buku yang berjudul Sokola Rimba dan kisahnya diangkat menjadi film dibawah besutan sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana di tahun 2013.

3. Angkie Yudistia, Wanita Tuna Rungu Inspiratif

www.thisable.org

Mungkin bagi kalian atau  sebagian orang khususnya penyandang difabel sudah tak asing lagi dengan nama perempuan cantik satu ini. Meskipun Angkie Yudistia adalah penyandang tuna rungu sejak berusia 10 tahun tapi ia tak mau mengalah pada keadaan dan terus memupuk dirinya untuk semakin berprestasi. Ia menempuh pendidikan di sekolah umum dari SD hingga lulus dari London School of Public Relation. Perempuan cantik ini juga bergabung dengan Yayasan Tunarungu Sehjira dan akhirnya menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam acara Asia-Pacific Development Center of Disability di Thailand. Pengalaman hidupnya sebaga penyandang difabel membuat dia prihatin dan peduli terhadap kaum difabel yang di pandang sebelah mata oleh masyarakat kita. Ia kemudian mendirikan Thisable Enterprise, sebuah pusat pemberdayaan ekonomi kreatif untuk kaum disabilitas Indonesia. 

3 sosok cantik diatas dihimpit begitu banyak keterbatasan namun menolak menyerah.  Mereka beraksi demi keluar dari jerat rasa rendah diri dan kemiskinan. Mereka yang serba kekurangan saja sudah mulai beraksi, lantas kamu yang punya segalanya dengan pendidikan tinggi kapan?

Alfin

http://oxygen36hydro.wordpress.com | [email protected]

Widget


Code

<iframe style="width:100%; height:100%; border:none; margin:0; padding:0;" src="http://daihatsu.co.id/kokgituya/widget" scrolling="yes"></iframe>