Agregator.com

TRAVEL

Keindahan Flores itu Bukan Soal Gunung dan Laut Saja, Karena Ada Kain Tenun Ikat Sikka yang Bikin Kamu Makin Cinta dengan Tanah Nusa Nipa

Jika kamu tahu bagaimana para Mama menyusun kain tenun ini, kamu pasti akan langsung jatuh cinta dengan kain mereka

Keeksotisan tenun ikat Flores merupakan daya tarik tersendiri. Kain tenun yang dahulu digunakan sebagai seserahan, upacara keagamaan, acara pernikahan, dan acara kematian ini merupakan karya seni yang sangat menarik jika diperhatikan dan dikenal lebih mendalam, dimulai dari proses pembuatannya, corak, dan motifnya. Salah satu tenun ikat Flores yang terkenal adalah kain tenun ikat Sikka. 

Produksi tenun ikat Sikka berpusat di Desa Sikka yang menurut Wikipedia masih merupakan kawasan Maumere. Buat masyarakat Sikka kain tenun Ikat Sikka adalah sumber penghidupan mereka. Ya, bisnis kain tenun ini memang menjadi harapan terbesar bagi kesejahteraan masyarakat setempat. Soal harga jangan ternganga jika para Mama menjual kain tenun Sikka dengan harga luar biasa murah. 

Jika kamu tahu bagaimana para Mama menyusun kain tenun ini, kamu pasti akan langsung jatuh cinta dengan kain mereka. Setidaknya itulah yang dirasakan para blogger dan wartawan yang menjelajah desa Sikka dalam rangakaian Terios 7 Wonders Tour de Flores. Para blogger berbagi pengalamannya mengenai kain tenun Sikka ini.

Proses pembuatannya yang masih manual membuat kualitas kain tenun Sikka tetap terjaga

Tim Terios 7 Wonders melihat para mama asyik membuat kain dengan terampil di depan rumah masing-masing

Datang ke Desa Sikka, Tim Terios 7 Wonder disuguhkan pemandangan desa yang dipenuhi para wanita penenun ikat atau biasa disebut mama. Tim Terios 7 Wonders melihat para mama asyik membuat kain dengan terampil di depan rumah masing-masing. Dengan tekun dan teliti, mereka menyusun benang satu-persatu menggunakan alat tenun sampai menjadi kain tenun utuh.

Proses pembuatan kain tenun ikat Sikka dilakukan secara manual. Pertama, benang diberi motif dengan menggunakan teknik ikat. Teknik ikat, yaitu mengikat benang dengan tali plastik lalu dicelupkan pada pewarna. Pencelupan warna ini dilakukan berulang-ulang sehingga menghasilkan warna yang pekat dan tahan lama. Setelah dikeringkan, ikatan dilepas dan akan menciptakan motif dari bagian benang yang tidak tertutup tali. Pewarnaan ini menggunakan bahan-bahan alami, antara lain akar mengkudu untuk warna merah, kunyit untuk warna kuning, daun nila untuk warna biru, dan batang pohon kakao untuk warna coklat.


Bukan sekedar kain yang dirangkai dengan beragam motif, karena ada filosofi dalam setiap helai benangnya

motif kelang dala mawarani menggambarkan bintang yang berarti kebijaksanaan dan kemurnian

Motif tenun ikat Sikka yang bertema kearifan lokal, antara lain motif kelang tulada, manu hutu, kelang dala mawarani, utang jarang atabi'ang, utang rempe oi sikka, dan lawo butu. Pertama, Motif kelang tulada bergambar pohon yang menjadi teladan bagi masyarakat. Kedua, Motif manu hutu menggunakan motif induk ayam dengan empat anak ayam yang melambangkan pengayoman terhadap kaum lemah. 

Ketiga, motif kelang dala mawarani menggambarkan bintang yang berarti kebijaksanaan dan kemurnian. Keempat, motif utang jarang atabi'ang menggambarkan sepasang manusia yang menunggangi kuda menyeberangi alam baka. Kelima, motif utang rempe oi sikka melambangkan ayah, ibu, dan anak yang menggambarkan kehidupan setelah pernikahan biasa dipakai oleh pengantin perempuan saat menikah. 

Keenam, motif lawo butu menggambarkan perahu yang dikelilingi hewan laut, seperti gurita, ikan, kepiting, dan binatang laut lainnya yang biasnaya dipakai untuk meminta hujan.

Biarpun butuh waktu lama dan proses pembuatannya amat kompleks, tapi para Mama tak mau kain Sikka dijual dengan harga diatas rata-rata

Syal yang terbuat dari kain tenun ikat misalnya biasa dibeli para turis sekitar Rp50.000

Datang ke Desa Sikka, tim Terios 7 Wonders tidak hanya bisa melihat para mama yang terampil menenun kain ikat, tetapi juga membeli kain ini untuk dijadikan oleh-oleh. Meski dibuat dengan tangan, tingkat kesulitan yang tinggi dan pembuatan yang lama, harga kain tenun ikat Sikka tergantung panjang kain.

Syal yang terbuat dari kain tenun ikat misalnya biasa dibeli para turis sekitar Rp50.000. Bila ingin kain yang lebih lebar lagi, kamu harus membayar Rp80.000. Sementara selimut yang terbuat dari kain tenun ikat yang biasanya memiliki panjang 4x2,5 meter bisa kamu bawa pulang dengan harga Rp 750.000.

kokgituyadotcom

[email protected]

Widget


Code

<iframe style="width:100%; height:100%; border:none; margin:0; padding:0;" src="http://daihatsu.co.id/kokgituya/widget" scrolling="yes"></iframe>