Apa Itu BBM B50? Ini Kandungan serta Harganya di SPBU
Sejak pemerintah mulai menerapkan mandatori BBM B50 secara bertahap pada 2026, Anda sebagai pemilik kendaraan diesel mungkin penasaran mengenai kandungan, harga, hingga keamanan penggunaannya.
Apakah B50 berbeda jauh dengan B40? Berapa harganya di SPBU? Agar tidak salah informasi, simak ulasan lengkap mengenai BBM B50, mulai dari komposisi, keunggulan, hingga fakta implementasinya di Indonesia.
Apa Itu BBM B50?
BBM B50 adalah bahan bakar biodiesel yang merupakan campuran antara 50% minyak solar (diesel fosil) dan 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME). FAME sendiri merupakan biodiesel yang diproduksi dari minyak nabati, terutama minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), yang telah melalui proses esterifikasi sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel.
Huruf "B" pada B50 berarti biodiesel, sedangkan angka 50 menunjukkan bahwa kandungan biodiesel dalam campuran tersebut mencapai 50 persen.
Program ini merupakan kelanjutan dari implementasi biodiesel sebelumnya, mulai dari B20, B30, B35, hingga B40, sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi dan industri.
Pemerintah mulai menerapkan mandatori B50 secara bertahap sejak 1 Juli 2026 setelah melalui serangkaian uji coba pada berbagai jenis kendaraan dan mesin, termasuk truk, alat berat, hingga kereta api. Penerapan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memperkuat pasokan energi nasional.
Secara umum, tujuan penerapan BBM B50 meliputi:
- mengurangi impor minyak solar;
- meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT);
- mendukung hilirisasi dan industri kelapa sawit nasional;
- memperkuat ketahanan serta kemandirian energi Indonesia di tengah ketidakpastian pasokan energi global.
Baca Juga: Daihatsu Raih Penghargaan CSR Bidang Sosial di Jawa Barat
Kandungan BBM B50
Sesuai namanya, BBM B50 memiliki komposisi:
- 50% minyak solar (diesel fosil);
- 50% FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang berasal dari minyak sawit.
Dengan porsi biodiesel yang lebih tinggi dibandingkan B40, B50 memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari solar konvensional, antara lain:
- Lebih ramah lingkungan. Kandungan biodiesel membantu menurunkan emisi gas buang dibandingkan penggunaan solar murni sehingga mendukung upaya pengurangan emisi karbon.
- Emisi lebih rendah. Biodiesel menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah karena berasal dari sumber daya terbarukan.
- Memiliki sifat pelumas (lubricity) yang lebih baik. Kandungan FAME dapat membantu meningkatkan kemampuan pelumasan pada sistem bahan bakar mesin diesel, sehingga berpotensi mengurangi keausan beberapa komponen.
- Nilai kalor sedikit lebih rendah. Dibandingkan campuran biodiesel dengan kadar lebih rendah, energi yang dihasilkan per liter B50 sedikit berkurang. Akibatnya, pada kondisi penggunaan tertentu konsumsi bahan bakar dapat sedikit meningkat, meskipun besarnya bergantung pada jenis kendaraan, beban mesin, dan kondisi pengoperasian.
Apa Perbedaan BBM B50 dengan B40?
Meskipun sama-sama merupakan biodiesel, B40 dan B50 memiliki perbedaan pada komposisi campuran dan tahap implementasinya.
|
Aspek |
B40 |
B50 |
|
Kandungan biodiesel |
40% |
50% |
|
Kandungan solar |
60% |
50% |
|
Bahan baku |
FAME |
FAME |
|
Tujuan |
Program biodiesel nasional |
Tahap lanjutan program biodiesel nasional |
|
Implementasi |
Berlaku sebelum Juli 2026 |
Mulai diterapkan bertahap sejak Juli 2026 |
Peningkatan kadar biodiesel dari B40 menjadi B50 merupakan bagian dari roadmap pemerintah dalam memperbesar pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai substitusi solar.
Dengan meningkatnya porsi FAME, pemerintah berharap konsumsi solar impor dapat terus ditekan, penggunaan energi terbarukan semakin meningkat, serta ketahanan energi nasional menjadi lebih kuat. Implementasi B50 juga menjadi langkah lanjutan menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia.
Berapa Harga BBM B50 di SPBU Tahun 2026?
Sejak mulai diterapkan secara bertahap pada 1 Juli 2026 hingga saat ini, pemerintah belum menetapkan harga khusus untuk B50. Sebaliknya, harga B50 tetap mengikuti mekanisme penetapan harga minyak solar yang dievaluasi dan diumumkan secara berkala oleh pemerintah setiap bulan.
Sebagai gambaran, pada Juli 2026 harga Biosolar B50 bersubsidi di jaringan SPBU Pertamina masih dipatok sekitar Rp6.800 per liter. Sementara itu, harga solar non-subsidi mengikuti kebijakan harga BBM nonsubsidi yang berlaku pada periode tersebut sehingga dapat berbeda sesuai evaluasi pemerintah dan badan usaha penyalur BBM.
Pemerintah juga menerapkan masa transisi sekitar tiga bulan dalam implementasi B50. Selama periode tersebut, distribusi dilakukan secara bertahap agar stok B40 yang masih tersedia di terminal BBM maupun SPBU dapat digunakan terlebih dahulu sebelum seluruh pasokan beralih ke B50.
Apakah Semua Mobil Diesel Bisa Menggunakan BBM B50?
Meskipun B50 telah mulai dipasarkan secara nasional, tidak semua kendaraan diesel otomatis direkomendasikan menggunakan bahan bakar ini.
Setiap produsen kendaraan memiliki spesifikasi sistem bahan bakar, standar emisi, dan rekomendasi jenis bahan bakar yang berbeda-beda sehingga pemilik kendaraan sebaiknya selalu mengacu pada buku manual atau informasi resmi dari pabrikan.
Baca Juga: Daihatsu Pertahankan Tren Positif, Retail Sales Naik 25%
BBM B50 Menjadi Langkah Baru Menuju Energi yang Lebih Berkelanjutan
Sejak Juli 2026, implementasi B50 mulai dilakukan secara bertahap di SPBU di seluruh Indonesia. Dari sisi harga, pemerintah tidak menetapkan tarif khusus untuk B50 karena mekanismenya tetap mengikuti harga minyak solar yang dievaluasi setiap bulan.
Sebelum menggunakan BBM B50, pastikan kendaraan diesel Anda memang direkomendasikan oleh pabrikan untuk menggunakan campuran biodiesel tersebut
images: esdm.go.id