Tips Sahabat

5 Pelanggaran Rambu Lalu Lintas yang Masih Sering Terjadi

28 Oktober 2026
pelanggaran rambu rambu lalu lintas yang masih sering terjadi

Sahabat Daihatsu, berkendara di jalan raya bukan hanya soal sampai tujuan, tetapi juga soal selamat dan tertib. Namun, masih banyak pengendara yang tanpa sadar melakukan pelanggaran lalu lintas yang sebenarnya bisa dihindari. Tingginya jumlah pelanggaran lalu lintas tercermin dalam operasi patuh jaya 2026 yang diselenggarakan pihak kepolisian Polda Metro Jaya pada 26 Oktober kemarin. Pelanggaran yang tercapture ETLE sebanyak 2.888 pelanggaran telah tervalidasi dan dikirimkan kepada pelanggar, seperti yang diungkapkan  oleh Kasatgas Gakkum Operasi Patuh Jaya 2026, AKBP M. Adiel Aristo yang dimuat di hukum.tvrinews.com edisi 27 Oktober .

Pelanggaran yang tampak sepele, seperti menambah kecepatan sedikit atau mengecek ponsel sebentar, dapat berujung pada kecelakaan hingga sanksi tilang. Aturannya tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Sebelum membahasnya, ada baiknya Sahabat mengenali dulu jenis rambu lalu lintas beserta artinya, karena rambu adalah bahasa utama di jalan.

Berikut lima pelanggaran lalu lintas yang paling sering terjadi dalam keseharian pengendara, lengkap dengan dasar aturan dan sanksinya.

1. Menerobos Lampu Merah

Menerobos lampu merah adalah pelanggaran yang paling mudah dijumpai di persimpangan. Alasannya beragam: terburu-buru, merasa jalan sepi, atau berpikir lampu hijau akan segera menyala. Padahal, persimpangan adalah titik rawan tabrakan karena kendaraan dari berbagai arah bertemu di satu area.

Lampu lalu lintas berfungsi mengatur giliran jalan agar arus kendaraan tidak saling bertabrakan. Saat lampu merah menyala, pengemudi wajib berhenti di belakang garis henti, bukan di atasnya atau melewati zebra cross. Lampu kuning juga bukan tanda untuk menambah kecepatan, melainkan peringatan untuk bersiap berhenti.

Menurut Pasal 287 ayat (2) UU LLAJ, pengemudi yang melanggar isyarat lampu lalu lintas dapat dipidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp500.000. Risiko terbesarnya tentu bukan denda, melainkan keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lain.

2. Tidak Menggunakan Sabuk Keselamatan Saat Mengemudi Mobil

Banyak pengemudi menganggap sabuk keselamatan tidak perlu dipakai untuk perjalanan dekat atau saat macet. Anggapan ini keliru, sebab benturan bisa terjadi kapan saja, bahkan pada kecepatan rendah.

Sabuk keselamatan menahan tubuh agar tidak terlempar ke depan atau keluar dari kabin saat terjadi pengereman mendadak maupun tabrakan. Fungsinya bekerja bersama airbag, sehingga perlindungannya lebih optimal jika sabuk dikenakan dengan benar.

Pasal 106 ayat (6) UU LLAJ mewajibkan pengemudi dan penumpang yang duduk di sampingnya mengenakan sabuk keselamatan. Pelanggarannya diatur dalam Pasal 289, dengan ancaman kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp250.000. Demi keselamatan, biasakan seluruh penumpang, termasuk yang duduk di kursi belakang, memakai sabuk sebelum mobil berjalan.

3. Melebihi Batas Kecepatan yang Ditentukan

Kecepatan tinggi sering dianggap wajar, terutama di jalan yang lengang atau jalan tol. Faktanya, semakin tinggi kecepatan, semakin panjang jarak pengereman dan semakin besar dampak benturan jika terjadi kecelakaan.

Batas kecepatan ditetapkan sesuai karakter jalan dan ditunjukkan lewat rambu. Secara umum, batas kecepatan paling tinggi adalah 100 km/jam di jalan bebas hambatan, 80 km/jam di jalan antarkota, 50 km/jam di kawasan perkotaan, dan 30 km/jam di kawasan permukiman. Selalu ikuti angka pada rambu di lokasi, karena batas di tiap ruas jalan bisa berbeda.

Pengemudi yang melanggar batas kecepatan dapat dikenai sanksi berdasarkan Pasal 287 ayat (5) UU LLAJ, yaitu kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp500.000. Di banyak ruas jalan, pelanggaran ini juga dapat terekam kamera tilang elektronik (ETLE) tanpa perlu dihentikan petugas.

4. Menggunakan Ponsel Saat Berkendara

Membalas pesan, menerima telepon, atau membuka peta sambil menyetir kini menjadi kebiasaan yang sangat umum. Padahal, mengalihkan pandangan dari jalan hanya beberapa detik saja sudah cukup untuk menyebabkan kendaraan menyimpang atau terlambat mengerem.

Penggunaan ponsel membuat perhatian terbagi: mata tidak lagi fokus ke jalan, tangan tidak sepenuhnya mengendalikan setir, dan pikiran sibuk dengan isi percakapan. Kondisi ini berbahaya bagi pengemudi maupun orang di sekitarnya.

Pasal 106 ayat (1) UU LLAJ mewajibkan pengemudi mengemudikan kendaraan dengan penuh konsentrasi. Pelanggarannya dikenai Pasal 283, yaitu kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp750.000. Jika Sahabat perlu menelepon atau membalas pesan, berhentilah dahulu di tempat yang aman, atau manfaatkan fitur navigasi yang sudah diatur sebelum perjalanan dimulai.

5. Tidak Memiliki atau Tidak Dapat Menunjukkan SIM yang Sesuai Ketentuan

Surat Izin Mengemudi (SIM) adalah bukti bahwa pengemudi telah lulus uji kompetensi dan layak mengendarai kendaraan bermotor. Meski begitu, masih ada yang berkendara tanpa SIM, lupa membawa SIM, atau memakai SIM yang tidak sesuai golongan kendaraan, misalnya SIM C untuk mengemudi mobil.

Setiap golongan SIM berlaku untuk jenis kendaraan tertentu, sehingga pastikan SIM Sahabat sesuai dengan kendaraan yang dikemudikan dan masih berlaku. Saat ada pemeriksaan, pengemudi wajib dapat menunjukkan SIM, baik berupa kartu fisik maupun SIM digital yang sah.

Sanksinya berbeda sesuai kondisi. Pengemudi yang tidak memiliki SIM dapat dipidana kurungan paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000 berdasarkan Pasal 281 UU LLAJ. Sementara itu, pengemudi yang sudah memiliki SIM tetapi tidak dapat menunjukkannya saat pemeriksaan dikenai Pasal 288 ayat (2), yaitu kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp250.000.

Tertib Berlalu Lintas, Tanggung Jawab Kita Bersama

Menerobos lampu merah, tidak memakai sabuk keselamatan, melebihi batas kecepatan, menggunakan ponsel saat berkendara, dan tidak membawa SIM yang sesuai adalah pelanggaran yang kerap dianggap sepele. Padahal, akibatnya bisa serius: sanksi hukum, kerugian materi, hingga hilangnya nyawa.

Dengan mematuhi aturan, Sahabat tidak hanya terhindar dari tilang, tetapi juga ikut menciptakan jalan yang lebih aman bagi semua. Mulailah dari kebiasaan kecil, seperti memastikan sabuk terpasang dan SIM selalu dibawa sebelum berangkat.

Untuk tips berkendara dan informasi seputar mobil Daihatsu lainnya, kunjungi daihatsu.co.id dan temukan beragam panduan yang membantu perjalanan Sahabat lebih aman dan nyaman.

Tips Sahabat Lainnya
Apa Saja Pelanggaran yang Bisa Terekam Kamera ETLE?
Apa Saja Pelanggaran yang Bisa Terekam Kamera ETLE?
Sahabat pernah kaget menerima surat tilang padahal merasa tidak pernah dihentikan polisi di jalan? Bisa jadi kendaraan Sahabat terekam kamera ETLE atau Electronic Traffic Law Enforcement. ETL
Sanksi Modifikasi Plat Nomor Kendaraan, Berapa Dendanya?
Sanksi Modifikasi Plat Nomor Kendaraan, Berapa Dendanya?
Memodifikasi plat nomor kendaraan, entah mengganti font, menempel stiker, atau mengubah warna, bisa membuat Sahabat berurusan dengan petugas. Pelanggarannya dikenai pidana kurungan paling lama dua bul
Seberapa Tinggi Genangan Air yang Aman Dilewati Mobil? Ini Panduannya
Seberapa Tinggi Genangan Air yang Aman Dilewati Mobil? Ini Panduannya
Genangan setinggi sekitar 30 cm, atau kira-kira setengah tinggi roda, umumnya masih menjadi batas aman bagi sebagian besar mobil penumpang. Lebih dari itu, air bisa masuk ke saluran udara mesin dan me
Inilah Cara Kerja Kamera ETLE dalam Merekam Pelanggaran
Inilah Cara Kerja Kamera ETLE dalam Merekam Pelanggaran
Sahabat Daihatsu, bila kalian melewati  Persimpangan jalan besar seperti di perempatan Sarinah Jakarta atau di jalan tol sering melihat terpasang kamera, kemungkinan besar  itu kamera ETLE.
Semua Hak Dilindungi Undang-Undang @Hak Cipta 2026 PT Astra Daihatsu Motor | Daihatsu Sahabatku
Kebijakan Privasi
Hubungi Kami